//
you're reading...

Islam

114. Surat An-Naas (Manusia)

1. Pengertian
2. Bacaan dan Arti
3. Tafsir menurut Prof. Quraish Shihab
4. Asbabun Nujul (Sebab turunnya)
A. Asbabun Nujul Imam Al Wahidi
B. Asbabun Nujul Imam Al Suyuti

 

1. Pengertian

Surah An-Nas (bahasa Arab:النَّاسِ, “Manusia”) adalah surah terakhir (ke-114) dalam al-Qur’an. Nama An-Nas diambil dari kata An-Nas yang berulang kali disebut dalam surat ini yang artinya manusia. Surah ini termasuk dalam golongan surah makkiyah. Isi surah adalah menganjurkan manusia memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan baik yang berasal dari golongan manusia maupun jin. (wikipedia)
2. Bacaan dan Arti

 

 

Artinya :

[114:1] Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

[114:6] dari jin dan manusia.

[114:2] Raja manusia.

[114:3] Sembahan manusia.

[114:4] Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

[114:5] yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

3. Tafsir menurut Prof. Quraish Shihab
4. Asbabun Nujul (Sebab turunnya)
A. Asbabun Nujul Imam Al Wahidi
Para ahli tafsir berkata, “Seorang anak Yahudi menjadi pembantu Rasulullah Saw. Pada suatu hari, ia didatangi oleh orang yahudi, dan demikian secara terus menerus mendatanginya, hingga anak Yahudi itu mengambil rambut Nabi Saw yang jatuh ketika di sisir dan beberapa gerigi sisirnya. Lalu anak itu memberikanny kepada orang Yahudi. Mereka menyihir Nabis Saw melalui sisir tersebut dan orang yang berbuat demikian itu bernama Labid bin A’sham, lalu ia menyembunyikannya di sebuah sumur yang diberi nama  Dzarwan milik bani Zuraiq. Maka Rasulullah mengalami sakit dan rambu kepalanya bertaburan. Dalam sakit tersebut beliau mengalami halusinasi berupa mendatangi istrinya, padahal beliau tidak mendatanginya, dan beliau mulai merasa pening dan beliau tidak mengetahui apa yang dapat menyelamatkannya.Pada suatu hari, ketika beliau sedang tidur datanglah dua malaikat kepada beliau. Yang satu duduk di dekat kepala beliau, sedang yang satu lagi di dekat kedua kaki beliau. Malaikat, yang berada di dekat kepala, berkata, “Bagaimana keadaan orang ini?” Malaikat yang satu lagi menjawab, “Dia terkena guna-guna.” Ia bertanya lagi, “Apa guna-guna itu?” Ia menjawab, “Disihir.” Ia bertanya lagi, “Siapa yang menyihirnya?.” Ia menjawab, “Labid bin A’sham, seorang Yahudi.” Ia bertanya lagi, “Dengan apa disihirnya?” ia menjawab lagi, “Dengan rambut dan gerigi sisir.” Ia bertanya lagi, “Di mana benda itu?” Ia menjawab, “Pada seludang mayang di bawah tembok yang mengililingi mulut sumur Dzarwan.”

Maka Rasulullah Saw. terbangun, lalu bersabda, “Wahai Aisyah, aku merasakan bahwa Allah mengabarkan kepadaku tentang penyakitku ini.” Lalu beliau mengutus Ali, Az-Zubair, dan ‘Ammar bin Yasir, lalu mereka menguras air sumur itu, seakan-akan berwarna merah seperti air pacar. Kemudian mereka mengangkat batu di dalamnya dan mengeluarkan seludang mayang, ternyata di dalamnya terdiri atas beberapa helai rambut beliau dan gerigi sisir, serta tali sebanyak sebelas simpul yang ditusuk dengan jarum. Lalu Allah ta’ala menurunkan dua surat al-Mu’awwidzat(Al-Falaq dan An-Nas). Maka setiap kali dibacakan satu ayat, satu simpul terlepas, dan beliau merasakan keringanan sehingga terlepas simpul yang terakhir, lalu beliau bangkit seakan-akan terlepas dari belenggu, dan mulailah Jibril As.Mengucapkan,“Bismillahi arqika min kulli syai’in yu’dzika wa min hasidin wa ‘ainin, Alahu yasyfika.” Maka mereka bertanya kepada Rasulullah Saw., “Wahai Rasulullah apakah kita tidak menuntut kepada yang jahat lalu kita membunuhnya?” Maka beliau menjawab, “Adapun saya, Allah telah menyembuhkanku dan aku tidak suka menimbulkan kejelekan terhadap manusia.”

B. Asbabun Nujul Imam Al Suyuti
Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitabnya Dalail An-Nubuwwah dari Al-Kali dari Abu Saleh dari Ibnu Abbas yang berkata, “Suatu ketika Rasullulah menderita sakit parah. Dua malaikat lantas mendatangi beliau. Yang satu duduk diarah kepala sementara yang satu lagi diarah kaki. Malaikat yang berada di sebelah kaki lalu bertanya kepada malaikat yang di sebelah kepala, ‘Apa yang sedang menimpanya?’ Malaikat yang di sebelah kepala menjawab, ‘Disihir orang’. Malaikat yang di sebelah kaki bertanya lagi, ‘Siapa yang menyihirnya?’ Dijawab, ‘Labid ibnul A’sham, seorang Yahudi. ‘Malaikat itu bertanya lagi, ‘Dimana diletakkan (sihirnya itu)?’ Dijawab, ‘Di sebuah sumur milik si Fulan, di bawah batu. Oleh sebab itu,  hendaklah Muhammad pergi ke sumur itu kemudian keringkan airnya lalu angkat batunya. Setelah itu ambil kotak yang berada dibawahnya kemudian bakarlah.”

Pada pagi harinya, Rasullulah mengutus Ammar bin Yasir serta beberapa sahabat untuk pergi ke sumur tersebut. Ketika sampai, mereka melihat airnya berubah warna menjadi kecoklatan seperti air pacar / inai. Mereka lantas menimba airnya, mengangkat batunya, mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berada didalmnya lalu membakarnya. Ternyata didalamnya terdapat seutas tali yang memiliki sebelas simpul. Selanjutnya Allah menurunkan kedua surat ini. Setiap kali Rasullulah membaca satu ayat maka terurailah satu simpul”Riwayat yang hampir sama dengan yang diatas terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, namun tanpa menyebutkan turunnya kedua surah. Akan tetapi, juga terdapat riwayat serupa yang disertai penyebutan kedua surah.Abu Nu’aim meriwayatkan dalam kitab ad-dalail dari Abu Ja’far Ar-razi dari Rabi’ bin Anas bin Malik yang berkata, “Seorang laki-laki Yahudi membuatkan sesuatu terhadap Rasullulah sehingga beliau menderita sakit parah. Tatkala sahabat menjenguk, mereka meyakini bahwa Rasullulah terkena sihir. Malaikat Jibril kemudian turun membawa mu’awwaidzatain (Surah Al-Falaq dan An-Nas) untuk mengobatinya. Akhirnya, Rasullulah pun kembali sehat.”