//
you're reading...

Islam

112. Al-Ikhlas

1. Pengertian
2. Bacaan dan Arti
3. Tafsir menurut Prof. Quraish Shihab
4. Asbabun Nujul (Sebab turunnya)
A. Asbabun Nujul Imam Al Wahidi
B. Asbabun Nujul Imam Al Suyuti

 

1. Pengertian

Surah Al-Ikhlas (Arab:الإخلاص, “Memurnikan Keesaan Allah”) adalah surah ke-112 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 4 ayat dan pokok isinya adalah menegaskan keesaan Allah sembari menolak segala bentuk penyekutuan terhadap-Nya. Kalimat inti dari surah ini, “Allahu ahad, Allahus shamad” (Allah Maha Esa, Allah tempat bergantung), sering muncul dalam uang dinar emas pada zaman Kekhalifahan dahulu. Sehingga, kadang kala kalimat ini dianggap sebagai slogan negara Khilafah Islamiyah, bersama dengan dua kalimat Syahadat. (wikipedia)
2. Bacaan dan Arti

 

 

Artinya:

[112:1] Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

[112:2] Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

[112:3] Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

[112:4] dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

3. Tafsir menurut Prof. Quraish Shihab
4. Asbabun Nujul (Sebab turunnya)
A. Asbabun Nujul Imam Al Wahidi
Qatadah dan Dahak dan Muqatil berkata, “Segolongan orang dari Yahudi datang kepada Nabi Saw.berkata, ‘Jelaskan pada kami sifat-sifat Tuhanmu. Karena sungguh Allah telah menyebutkan sifat-sifatnya di dalam Taurat. Kabari kami dari apa Dia, apakah Dia dari emas, timah atau perak, dan apakah Dia makan dan minum, mewarisi dunia, dan siapakah yang diwarisinya?” Maka Allah Swt. menurunkan surat ini, yaitu tentang sifat Allah yang khusus.
B. Asbabun Nujul Imam Al Suyuti
Imam At-Tirmidzi, Al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Aliyah dari Ubai bin Ka’ab bahwa suatu ketika orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah, “Gambarkanlah kepada kami bagaimana Tuhan engkau?” Allah lalu menurunkan ayat ini hingga akhir surah.
Imam Ath-Thabrani dan Ibnu Jarir meriwayatkan riwayat senada dari Jabir bin Abdillah. Dengan riwayat ini, sebagian pihak berdalil bahwa surah ini adalah Makkiyyah.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa suatu ketika kelompok Yahudi datang kepada Nabi saw, diantara rombongan tersebut terdapat Ka’ab bin Asyraf dan Huyay bin Akhthab. Mereka lalu berkata, “Wahai Muhammad, gambarkanlah kepada kami cirri-ciri Tuhan yang mengutus engkau itu?!” Allah lalu menurunkan ayat ini hingga akhir surah.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah, demikian pula Ibnul Mundzir dari Said bin Jubair riwayat yang mirip dengan diatas. Dengan riwayat ini, sebagian pihak berdalil bahwa surah ini adalah Madaniyyah.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Aliyah yang berkata, “Qatadah berkata, ‘Sesungguhnya pasukan koalisi (kaum kafir) pernah berkata kepada Nabi saw, ‘Gambarkanlah kepada kami bagaimana Tuhan engkau itu?’ Jibril lalu turun dengan membawa surah ini.”
Jadi, inilah yang dimaksud dengan “orang-orang musyrik” seperti yang disebut dalam riwayat Ubai bin Ka’ab. Oleh sebab itu, jelaslah bahwa surah ini adalah Madaniyyah, sebagaimana yang juga ditunjukkan oleh hadits dari Ibnu Abbas. Dengan demikian, kontradiksi antara kedua hadits diatas telah dapat diatasi.
Tetapi, Abusy Syaikh meriwayatkan dalam kitab Al-‘Azhamahdari Aban dari Anas yang berkata, “Suatu ketika, orang-orang Yahudi Khaibar datang kepada Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Abal Qasim, Allah telah menciptakan para Malaikat dari cahaya tirai-Nya, Adam dari tanah liat yang diberi bentuk, Iblis dari kobaran api, langit dari awan dan bumi dari buih air. Oleh karena itu, beritahukanlah kepada kami bagaimana hakikat Tuhanmu itu? Rasulullah belum menjawab pertanyaan tersebut hingga Jibril datang dengan membawa surah ini.”